MSPORTS – Petenis wanita nomor satu dunia, Iga Swiatek, berhasil memenangkan titel US Open pertamanya usai mengalahkan petenis Tunisia Ons Jabeur di final, Minggu (11/9) dini hari WIB.

Petenis asal Polandia ini menang mudah di set pertama. Namun Jabeur yang akan merupakan unggulan kelima, berhasil memaksa partai ini hingga fase tie break di set kedua.

Swiatek yang telah juara French Open dua kali, berhasil mendapatkan titel kedua tahun ini setelah menaklukkan Jabeur di tie break dan menang dua set langsung 6-2 7-6(5).

Gelar ini merupakan gelar perdana di US Open sekaligus titel Grand Slam pertama di lapangan keras bagi Swiatek.

Petenis berusia 21 tahun ini juga menjadi petenis asal Polandia pertama yang memenangkan US Open.

“Saya benar-benar perlu tetap tenang dan fokus pada tujuan, dan di turnamen ini sangat menantang,” kata Swiatek usai pertandingan.

“Ini New York, sangat berisik, sungguh gila. Ada banyak godaan di kota ini. Saya sangat bangga bisa mengatasinya secara mental.”

Pada laga ini memang banyak gangguan, bukan hanya bagi Swiatek, tapi juga bagi Jabeur.

Hal ini karena suara penonton di Arthur Ashe Stadium yang merupakan lapangan tenis terbesar sempat mengganggu permainan. Terdapat siulan dan teriakan saat pemain melakukan servis yang membuat wasit memberikan teguran keras.

Meski kalah dalam turnamen ini, Jabeur yang juga finalis di Wimbledon lalu, akan menjadi rangking dua setelah turnamen ini selesai.

“Saya sangat berusaha namun Iga tidak membuat partai ini menjadi mudah,” kata Jabeur.

“Dia pantas menang hari ini. Saya tidak begitu menyukai dia saat ini tapi tidak apa-apa,” lanjut Jabeur sembari bercanda.

“Saya akan tetap berjuang keras dan kami akan mendapatkan titel ini secepatnya.”

Jabeur mencatatkan sejarah di Wimbledon lalu ketika ia menjadi wanita Arab pertama yang mencapai babak final di Grand Slam. Petenis berusia 28 tahun ini juga menjadi pemain asal Afrika pertama yang mencapai babak final US Open.

“Saya berharap bisa menginspirasi lebih banyak generasi, ini tujuannya,” lanjutnya.

“Ini hanya awal dari banyak hal.

Gelar juara di US Open ini merupakan gelar terakhir dari Swiatek yang pada tahun ini berada dalam performa terbaiknya.

Ia menduduki peringkat satu dunia setelah Ash Barty secara mendadak mengumumkan pensiun.

Namun ia dengan cepat membuktikan bahwa dirinya pantas berada di posisi puncak dengan memenangkan 37 partai beruntun, termasuk di French Open tahun ini.

Meski dinilai sebagai pemain spesialis lapangan tanah liat, Swiatek membuktikannya di lapangan keras dengan gelar di Indian Wells dan Miami.

Sayangnya, kiprahnya menurun setelah gugur di putaran ketiga Wimbledon. Ia juga tampil mengecewakan di turnamen lapangan keras sekaligus turnamen pemanasan US Open di Toronto dan Cincinnati.

Awal kiprahnya di US Open diwarnai protes kerasnya terhadap bola yang digunakan di turnamen ini.

Kendati demikian, setelah melewati partai ketat melawan Jule Niemeier dan Aryna Sabalenka, ia kembali mencatatkan namanya di buku sejarah.